TERNATE – Hasil seleksi petugas haji daerah (PHD) Tingkat Provinsi Maluku Utara tahun 2026 yang dilaksanakan di Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Maluku Utara, disorot Akademisi IAIN Ternate, Dr Arwan M Said
Berdasarkan pengumuman hasil seleksi rekrutmen Petugas Haji Daerah Maluku Utara Tahun 1447 H/2026 M Nomor: 02/PANPELPHD/2026, ini menyisahkan masalah yang dinilai akan berdampak massif terhadap pelayanan dan pendampingan jamaah haji.
Hasil tersebut, peserta yang nilainya rendah, tidak memiliki kecakapan berbahasa Arab dan minim pengalaman justru diluluskan. Sementara peserta yang nilainya tinggi, memiliki kompetensi dan pengalaman menguasai seluk-beluk ibadah dan budaya lokal untuk membimbing jamaah secara spiritual dan teknis, justru tidak diloloskan.
Menurut Arwan, seleksi PHD dengan sistem CAT (Computer Assisted Test) dan wawancara, bertujuan menjaring petugas yang profesional, berintegritas, dan kompeten untuk memberikan pelayanan maksimal bagi jamaah haji.
“Seleksi bukan dijadikan ruang kompromi kepentingan, kedekatan personal, atau pertimbangan non-teknis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik,”ujarnya.
Proses ini harus memastikan terpilihnya petugas yang mampu mendampingi jamaah secara optimal, memenuhi syarat, serta dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
“Jika meluluskan peserta yang tidak memiliki pengalaman lapangan, tidak fase bahasa Arab, akan berdampak serius pada pendamping dan berpotensi membahayakan jamaah haji,”tukasnya.
Arwan menegaskan, keputusan panitia yang terbukti meloloskan peserta yang tidak berpengalaman dan kompeten harus dievaluasi dan dicopot.
“Petugas haji bukan sekadar pendamping, melainkan pelayan (Dhuyufurrahman) yang mengemban amanah berat. Tugas ini menuntut komitmen fisik dan mental 24 jam untuk melayani, melindungi, dan membimbing jamaah. Satu kesalahan kecil akan berimplikasi serius,” tandasnya.
“Jadi petugas yang mendampingi jamaah haji itu harus punya kemampuan bahasa Arab, sehingga bisa mengatasi risiko. Bilamana jamaah sakit, berada dalam kondisi darurat dan terpisah dari rombongan. Ini sangat bergantung pada petugas yang cakap berkomunikasi – bahasa Arab,”sambungnya.
Terpisah, Kepala Kanwil Haji dan Umrah Maluku Utara, Jabir Wahid saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sabtu (24/1) mengatakan, proses seleksi sudah sesuai prosedur.
Meski begitu, ia mengakui peserta yang nilainya tinggi yang tidak diluluskan memiliki pengalaman dan tidak diragukan soal kemampuan melayani jamaah haji.
“Yang bersangkutan memang sudah tidak diragukan lagi soal pelayanan jamaah haji. Hanya saja, dalam hasil tes dari jumlah peserta yang ikut itu hanya dua orang nilainya tertinggi direkrut,”jelasnya. (dm/red)















