Dari Lahan ke Penghidupan Baru: Kisah Warga Kawasi dan Soligi Menyusun Masa Depan

- Jurnalis

Selasa, 28 April 2026 - 09:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Madina Jouronga Bersama Anaknya, Yang Mengemudikan Kapal Akelamo Jaya

Madina Jouronga Bersama Anaknya, Yang Mengemudikan Kapal Akelamo Jaya

HALSEL – Deru mesin speedboat memecah pagi di Pelabuhan Panji Baru, Desa Kawasi, Pulau Obi. Kapal motor Akelamo Jaya melaju menuju Bacan. Bagi pemiliknya, Madina Jouronga (55), perahu itu menjadi penanda perubahan hidup yang bermula dari keputusan menjual lahan.

“Speedboat ini saya beli dari hasil jual lahan di Akelamo. Sebagai rasa syukur dan pengingat akan asal-usulnya, Speedboat ini diberi nama Akelamo Jaya,”ujar Madina, Selasa (28/042026)

Madina mengisahkan, dulu ia hanya mengandalkan kebun. Tetapi kini, ia bersama anaknya mengelola usaha transportasi laut. Sekali jalan, bisa meraup kisaran Rp10 juta bersih. Dalam sebulan, penghasilannya bisa mencapai Rp40 juta.

“Perusahaan tidak memaksa. Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,”ucapnya

Kisah serupa datang dari Nur Eneng Rahmat (33). Di permukiman baru Kawasi, ia mengelola rumah kosan sebagai sumber penghasilan. Dalam periode 2022–2024, ia beberapa kali membebaskan lahan.

“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan hingga disepakati bersama,” kata Nur Eneng.

Proses itu, menurutnya, berlangsung terbuka dan melibatkan pihak terkait, termasuk pemerintah desa. Dari hasil penjualan salah satu lahan ia gunakan untuk membangun rumah, mengembangkan usaha kosan, dan membeli kendaraan.

Baca Juga :  Peduli Bencana, KKSS Halbar Santuni Korban Banjir di Kecamatan Ibu

Kini, ia memiliki 10 kamar kos aktif dengan tarif Rp1,5–2 juta per bulan, dan tengah menyiapkan pengembangan hingga 30 kamar.

“Di sini nilainya lebih tinggi. Menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,”ujarnya.

Kesepakatan di Balik Pembebasan Lahan

Pengalaman warga Kawasi itu berdiri kontras dengan narasi yang kerap menyebut pembebasan lahan oleh Harita Nickel, perusahaan tambang dan hilirisasi nikel terintegrasi yang beroperasi di Pulau Obi, tidak transparan. Bagi Madina dan Nur Eneng, keputusan menjual lahan justru lahir dari proses yang mereka pahami sejak awal.

Pandangan serupa juga disampaikan, Siti Aminah (52) warga Desa Soligi. Ia mengaku menjual lahannya untuk pembangunan bandara tanpa tekanan.

“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi (pembebasan lahan) ini terjadi karena kesepakatan,” ujarnya.

Meski sempat enggan melepas kebun, tetapi ia melihat pembangunan bandara sebagai peluang bagi desa. Hasil penjualan lahan digunakan untuk membangun rumah dan kios.

Ade Ahmad (50), warga Soligi lainnya, juga menjual lahannya. Dari hasil penjualan lahan itu, digunakan untuk membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, dan menabung untuk masa depan anak.

Baca Juga :  DPRD Rapat Bersama Camat dan Lurah Ternate Tengah, Fokus Evaluasi Data Bansos

“Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” ujarnya.

Bagi Ade, kehadiran bandara bukan sekadar proyek, melainkan harapan akan perubahan. “Dengan adanya bandara, kami yakin kehidupan masyarakat bisa lebih baik,” katanya.

Di sisi lain, pihak perusahaan menegaskan, proses pembebasan lahan dilakukan dengan prinsip transparansi dan kesepakatan. Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menyebut seluruh tahapan dijalankan sesuai prosedur dan melibatkan pihak terkait.

“Pembebasan lahan dilakukan secara transparan dan berdasarkan kesepakatan bersama tanpa paksaan,” ungkapnya.

Menurut Ary, masyarakat diberi pemahaman sejak awal mengenai proses, nilai, dan mekanisme yang digunakan. “Prinsip kami, proses harus adil, terbuka, dan dapat diterima semua pihak,” tegasnya.

Bagi warga Kawasi dan Soligi, pembebasan lahan bukan sekadar transaksi. Ia menjadi titik awal perubahan: dari kebun ke usaha, dari ruang lama ke peluang baru.

Di laut, Akelamo Jaya terus berlayar. Di darat, kamar-kamar kosan mulai terisi. Di antara keduanya, tersimpan cerita tentang pilihan yang diambil, kesepakatan yang dijalani, dan masa depan yang sedang dibangun. (red)

Berita Terkait

Bak Penampung Air Moya Telan Korban, Lurah Bergerak Cepat Pasang Pagar
Peduli Korban Bencana Batang Dua, Harita Nickel Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga
Kapolres Ternate Pimpin Penanaman Jagung Serentak di RT 17 Kelurahan Maliaro
Dari Simulasi hingga Terjun Lokasi, Harita Nickel Padukan Edukasi dan Aksi Nyata Penanganan Bencana
Kapolsek Ternate Utara dan Lurah Maliaro Sosialisasi KUHP Terbaru
Dinsos Bersama Komisi III DPRD dan Jajaran Kelurahan Maliaro Bahas DTSEN
Peduli Bencana, KNPI Halbar Salurkan Batuan di Desa Sasur Pantai dan Goro Goro
ASN Tiga Kecamatan Dikerahkan Bantu Warga Terdampak Bencana
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 09:26 WIB

Dari Lahan ke Penghidupan Baru: Kisah Warga Kawasi dan Soligi Menyusun Masa Depan

Senin, 6 April 2026 - 16:31 WIB

Bak Penampung Air Moya Telan Korban, Lurah Bergerak Cepat Pasang Pagar

Minggu, 5 April 2026 - 14:23 WIB

Peduli Korban Bencana Batang Dua, Harita Nickel Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:07 WIB

Kapolres Ternate Pimpin Penanaman Jagung Serentak di RT 17 Kelurahan Maliaro

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:28 WIB

Dari Simulasi hingga Terjun Lokasi, Harita Nickel Padukan Edukasi dan Aksi Nyata Penanganan Bencana

Berita Terbaru