HALBAR – Pelaksanaan Festival Teluk Jailolo (FTJ) yang dipusatkan di Desa Dodinga, Kecamatan Jailolo Selatan, bukan tanpa alasan historis yang kuat.
Pemusatan festival di desa pesisir ini sengaja dilakukan untuk menguak kembali lembaran sejarah dunia tahun 1858, saat naturalis legendaris asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menginjakkan kakinya di tanah Halmahera Barat.
Ketua Bidang Seni dan Budaya DPD KNPI Halmahera Barat, Fachri M. Taher, menegaskan, masyarakat dan generasi muda harus paham betul mengapa Dodinga menjadi episentrum penting dalam dunia sains moderen.
Asal-usul Wallace di Dodinga: Berawal dari Surat yang Mengguncang Dunia
Berdasarkan catatan sejarah yang tertuang dalam buku mahakaryanya, The Malay Archipelago. Wallace pertama kali tiba di Dodinga pada Januari 1858 setelah berlayar dari Ternate.
Di desa inilah, dalam kondisi menderita sakit demam malaria yang parah di sebuah gubuk kecil, Wallace justru mendapatkan kilatan inspirasi ilmiah yang luar biasa.
Dari Dodinga, ia menulis surat legendaris berjudul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type” yang kemudian dikirimkan kepada Charles Darwin. Surat dari Dodinga inilah yang memaksa Darwin segera menerbitkan teori evolusi yang mengguncang dunia sains.
”Dodinga bukan sekadar tempat singgah bagi Wallace. Dari gubuk kecil di desa inilah, gagasan besar tentang bagaimana isi bumi ini berevolusi lahir. Ini fakta sejarah yang harus dipahami seluruh masyarakat Halmahera Barat,” ungkap Fachri.
Misi Perburuan Burung Bidadari (Semioptera wallacii)
Selain merumuskan teori evolusi, alasan kuat yang membawa Wallace menjelajah lebih dalam ke daratan Halmahera Barat adalah ambisinya untuk menemukan spesies burung surga (birds of paradise) yang belum pernah tercatat oleh ilmuwan Barat manapun saat itu.
Melalui bantuan masyarakat adat setempat, Wallace akhirnya berhasil menemukan Burung Bidadari Halmahera—yang kemudian diberi nama ilmiah Semioptera wallacii sebagai penghormatan atas penemuannya.
Burung endemik berbulu indah dengan dua pasang pita putih panjang di sayapnya ini ditemukan Wallace di pedalaman hutan Halmahera Barat, setelah melakukan pengamatan mendalam terhadap kebiasaan menari burung tersebut saat musim kawin.
”Penemuan Burung Bidadari oleh Wallace adalah bukti otentik bahwa sejak abad ke-19, Halmahera Barat adalah ‘surga’ keanekaragaman hayati. Melalui momentum FTJ di Dodinga ini, kami mendesak agar visualisasi sejarah Burung Bidadari dan perjalanan Wallace dipaparkan secara gamblang, agar tumbuh kesadaran kritis pada pemuda untuk menjaga hutan dan alam kita,” tegasnya
Komitmen Proteksi Budaya dan Ekonomi Lokal
KNPI Halmahera Barat mengingatkan panitia FTJ agar narasi sejarah yang kuat ini tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk seremonial belaka. Sejarah besar ini harus selaras dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat Dodinga dan sekitarnya.
”Wallace bisa bertahan hidup dan meneliti di Dodinga karena kebaikan dan kearifan masyarakat lokal abad ke-19. Hari ini, melalui FTJ, kita harus membalas budi sejarah itu dengan memastikan produk lokal baik itu kuliner, kopi rempah, maupun kerajinan tangan masyarakat Dodinga menjadi primadona di setiap lapak. Jangan biarkan produk luar menjajah ruang ekonomi warga kita,” pungkas Fachri tegas. (red)















