HALBAR – Produksi beras kelompok binaan Program TEKAD di Desa Taboso Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, tembus 4,5 ton. Capaian ini melampaui kebutuhan rata-rata masyarakat 4 ton per bulan.
Ini menjadi pijakan desa membangun ketahanan pangan lokal lewat hilirisasi nilai tambah dan pola panen bertahap sebagai strategi mencapai surplus berkelanjutan. Hal ini terungkap dalam Rakor Program TEKAD Halmahera Barat di Rumkop Cafe, Rabu (04/06/2026)
Fasilitator TEKAD Kecamatan Jailolo, Farjihan A. M Ngofangare, memaparkan rincian produksi yang membawa Taboso melewati fase defisit. “Demplot TEKAD hasilkan 2 ton, replikasi 8 petani hasilkan 2,5 ton. Karena masa tanam berdekatan, total 4,5 ton melampaui kebutuhan bulanan warga rata-rata 4 ton,” ujarnya.
Farjihan menekankan, perlu alokasi hasil sebagai _showcase_ untuk mengurus izin edar dan sertifikasi mutu produk beras Taboso.
“Kita alokasikan sebagai showcase untuk mengurus PIRT dan merek. Ini bentuk hilirisasi dan strategi harga untuk membangun daya saing pasar,” tegasnya.
Sementara Fasilitator Kabupaten (Faskab) TEKAD Halbar, Anton Ilyas menambahkan, ke depan perlu pola tanam serempak dengan target 4 kali panen setahun. “Jika konsisten 4,5 ton, produksi bisa 18 ton. Pola ini tentu harus dikawal bersama PPL dan BUMDES agar jadwal tanam tepat waktu,” paparnya.
Sebagai langkah strategis, lanjut Anton, diharapkan kepada Pemerintah Daerah Halmahera Barat dan Provinsi Maluku Utara untuk memfasilitasi saluran serapan pasar dan rantai distribusi yang pasti.
“Di Halbar, khususnya desa binaan TEKAD, ada Taboso, Hoku-Hoku Kie, hingga Golago Kusuma sedang bergeliat di padi sawah. Produksinya naik, tetapi jika tidak dibarengi jaminan pasar, petani bisa trauma harga. Kita semua tentu tidak berharap hulunya (petani) patah semangat,” pungkas Faskab yang membidangi Tata Kelola Kelembagaan TEKAD Halbar ini.
Merespons tantangan di Taboso, Koordinator TEKAD Kabupaten Halmahera Barat, Amin Raden, S. Sos menegaskan arah program ke depan. “PR kita sekarang bukan lagi sekadar panen, tetapi pola panennya harus diatur berulang. Untuk menjawab defisit di tingkat desa sudah oke, tetapi kita harus memiliki peta jalan menuju kemandirian,” tegasnya. (red)














